Ramban Item (82 total)

Cah Rhot

Cah Rhot

Cah Rhot adalah istilah yang menggambarkan tahapan paling awal dari sebuah proses pencarian jodoh secara tradisional dalam masyarakat Aceh. Secara terjemahan bebas, cah rot berarti “membuka jalan”. Proses cah rot dalam hal ini adalah komunikasi awal yang dibangun dalam rangka inisiasi sebuah rencana membentuk kehidupan keluarga lewat mahligai perkawinan. Iniasiasi awal cah rot ini seringkali dan hampir selalu berasal dari keluarga laki-laki yang biasanya menunjuk seseorang yang mereka percayai dan memiliki pengalaman sebagai seulangke untuk membuka komunikasi awal. Dengan kata lain cah rhot merupakan langkah-langkah untuk mempelajari atau melihat keadaan keluarga perempuan yang dilakukan oleh pihak keluarga pemuda sebelum meminang.
Khanduri Molod

Khanduri Molod

Khanduri molod dilaksanakan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid di Aceh berlangsung selama tiga bulan, yang dibagi menjadi tiga fase: Maulid Awal, Maulid Tengah, dan Maulid Akhir. Perayaan dimulai pada bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai buleuen molod (maulid awal), dilanjutkan pada bulan Rabiul Akhir, yang disebut buleuen adoe molod (maulid pertengahan), dan diakhiri pada bulan Jumadil Awal, yang disebut buleuen molod seuneulheuh (maulid akhir). Setiap desa di Aceh akan melaksanakan khanduri ini dengan waktu yang berbeda beda antara satu desa dengan desa lainnya sepanjang tiga bulan perayaan.
Meulakee

Meulakee

Meulakee/Meminang merupakan proses melamar seorang gadis yang dilakukan oleh seulangke atas nama keluarga calon Linto Baro. Keluarga pemuda mengundang pemangku adat gampong bersama seulangke untuk melaksanakan pinangan. Pihak pemuda tersebut melakukan pinangan dengan menyerahkan satu cerana berisi sirih dan satu puan yang dibungkus dengan kain sutra yang didalamnya berisi perhiasan yang terbuat dari emas, sedangkan cerana tersebut berisi sirih yang juga disebut sebagai ranup kong haba. Perhiasan yang diserahkan tersebut sebagai tanda pertunanganan (me tanda) dari pihak calon linto baro kepada calon dara baro.
Khanduri Beureu’at

Khanduri Beureu’at

Khanduri Beureu’at adalah tradisi masyarakat Aceh yang dilaksanakan pada malam Nisfu Sya’ban (15 Sya’ban dalam kalender Islam), yaitu kenduri atau jamuan makan bersama setelah salat Isya di meunasah, masjid, atau musalla dengan doa, ceramah, dan makanan yang dibawa warga sebagai bentuk permohonan berkah umur dan kebersamaan spiritual masyarakat.
Meugatib

Meugatib

Meugatib adalah upacara atau prosesi adat pernikahan dalam budaya masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pelaksanaan pernikahan/nikah menurut adat setempat, sering dilaksanakan di rumah atau mesjid dengan doa dan tradisi yang melibatkan keluarga serta pemuka adat sebagai bagian penting dalam rangkaian pernikahan tradisional.
Intat Ranup Gaca

Intat Ranup Gaca

Intat Ranup Gaca adalah tradisi adat dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh di mana keluarga linto baro (keluarga pengantin pria) mengantar daun sirih dan daun inai beserta perlengkapannya dalam tiga talam tertutup dengan sangee (tudung saji) berbalut kain kuning, sebagai bagian dari hantaran untuk upacara intat linto. Rombongan ini biasanya terdiri dari tokoh adat seperti seulangke, geuchik, dan teungku sagoe, serta pemuda pembawa talam dan beras untuk makanan rombongan.
Me Gateng

Me Gateng

Me Gateng atau mé gaténg adalah prosesi adat masyarakat Aceh berupa membawa makanan (bu kulah) kepada ibu hamil, khususnya oleh keluarga mempelai laki-laki (linto baro) kepada mempelai wanita (dara baro) yang sedang hamil pada kehamilan pertamanya. Tradisi ini dilakukan ketika usia kandungan telah mencapai sekitar tujuh bulan untuk memberikan penghormatan serta dukungan terhadap ibu hamil melalui pengantaran nasi, lauk pauk, kue tradisional, buah-buahan, perlengkapan bayi, sirih, dan uang yang kemudian dimakan bersama keluarga.

Publisher
Manoe Pucok

Manoe Pucok

Manoe Pucok adalah tradisi adat masyarakat Aceh yang merupakan bagian dari upacara pernikahan dan upacara sunat Rasul. Secara harfiah manoe berarti mandi atau membersihkan tubuh dan pucok berarti pucuk daun; prosesi ini melibatkan mandi bersama dengan ornamen pucuk daun kelapa dan tarian pho sebagai simbol pembersihan diri sebelum memasuki tahap kehidupan yang baru, dilakukan biasanya sebelum hari pernikahan atau upacara penting lain dalam kehidupan.
Toet Apam (Memasak Apam)

Toet Apam (Memasak Apam)

Toet Apam adalah tradisi masyarakat Aceh berupa kegiatan memasak kue apam — sejenis penganan mirip serabi — sebagai bagian dari khanduri pada buleun Apam (setara bulan Rajab dalam kalender Hijriah). Tradisi ini biasanya dilakukan oleh kaum ibu di kampung secara sendiri atau berkelompok, mengolah beras menjadi adonan apam yang kemudian dimasak di atas pinggan tanah.
Peutron Aneuk

Peutron Aneuk

Peutron Aneuk adalah tradisi adat masyarakat Aceh yang dikenal juga sebagai upacara “turun tanah”, yaitu prosesi membawa bayi yang baru lahir keluar rumah atau ke tanah saat usia tertentu — umumnya sekitar 44 hari — untuk diperkenalkan kepada lingkungan masyarakat. Ritual ini dipimpin oleh imum meunasah dan pemangku adat, mencakup peugidong tanoh (menjejakkan kaki bayi ke tanah) dan biasanya diikuti dengan peucicap (mencicipi rasa) serta doa-doa dan selawat sebagai bentuk restu agar bayi tumbuh baik dan selamat.
Output Formats:

atom, dcmes-xml, json, omeka-xml, rss2