Cah Rhot adalah istilah yang menggambarkan tahapan paling awal dari sebuah proses pencarian jodoh secara tradisional dalam masyarakat Aceh. Secara terjemahan bebas, cah rot berarti “membuka jalan”. Proses cah rot dalam hal ini adalah komunikasi awal yang dibangun dalam rangka inisiasi sebuah rencana membentuk kehidupan keluarga lewat mahligai perkawinan. Iniasiasi awal cah rot ini seringkali dan hampir selalu berasal dari keluarga laki-laki yang biasanya menunjuk seseorang yang mereka percayai dan memiliki pengalaman sebagai seulangke untuk membuka komunikasi awal. Dengan kata lain cah rhot merupakan langkah-langkah untuk mempelajari atau melihat keadaan keluarga perempuan yang dilakukan oleh pihak keluarga pemuda sebelum meminang.
Khanduri molod dilaksanakan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid di Aceh berlangsung selama tiga bulan, yang dibagi menjadi tiga fase: Maulid Awal, Maulid Tengah, dan Maulid Akhir. Perayaan dimulai pada bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai buleuen molod (maulid awal), dilanjutkan pada bulan Rabiul Akhir, yang disebut buleuen adoe molod (maulid pertengahan), dan diakhiri pada bulan Jumadil Awal, yang disebut buleuen molod seuneulheuh (maulid akhir). Setiap desa di Aceh akan melaksanakan khanduri ini dengan waktu yang berbeda beda antara satu desa dengan desa lainnya sepanjang tiga bulan perayaan.
Meulakee/Meminang merupakan proses melamar seorang gadis yang dilakukan oleh seulangke atas nama keluarga calon Linto Baro. Keluarga pemuda mengundang pemangku adat gampong bersama seulangke untuk melaksanakan pinangan. Pihak pemuda tersebut melakukan pinangan dengan menyerahkan satu cerana berisi sirih dan satu puan yang dibungkus dengan kain sutra yang didalamnya berisi perhiasan yang terbuat dari emas, sedangkan cerana tersebut berisi sirih yang juga disebut sebagai ranup kong haba. Perhiasan yang diserahkan tersebut sebagai tanda pertunanganan (me tanda) dari pihak calon linto baro kepada calon dara baro.
Tari Ratoh Taloe merupakan tarian tradisional yang berasal dari Aceh dan dibawakan secara berkelompok. Tarian ini menampilkan gerakan yang kompak, dinamis, dan ritmis, serta diiringi syair-syair bernuansa religi dan kebersamaan. Tari Ratoh Taloe sering dipentaskan dalam acara adat, pertunjukan budaya, dan penyambutan tamu.
Tari Ratoh Jaroe adalah tarian tradisional khas Aceh yang menampilkan gerakan sinkron dan ritmis dengan dominasi gerakan tangan serta tubuh yang penuh semangat. Tari ini sering dibawakan secara berkelompok dan diiringi syair serta musik tradisional seperti rebana. Selain sebagai ekspresi seni, tari ini mencerminkan nilai kebersamaan, kekompakan, dan semangat masyarakat Aceh serta berfungsi sebagai media ritual budaya dalam berbagai acara perayaan, festival seni, dan upacara adat.
Tari Tarek Pukat adalah tarian tradisional khas Aceh yang menggambarkan aktivitas masyarakat pesisir, terutama nelayan saat menarik pukat atau jaring untuk menangkap ikan di laut. Tarian ini mencerminkan semangat gotong-royong, kerja sama, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Aceh serta ekspresi hidup komunitas pesisir melalui gerak, syair, dan musik tradisional. Tari Tarek Pukat biasa ditampilkan dalam berbagai acara budaya, upacara penyambutan, dan pertunjukan seni tradisional Aceh.
Kesenian Meugrob adalah tarian tradisional khas Aceh yang menonjolkan gerakan hentakan kaki secara kompak dan ritmis, biasanya dipentaskan oleh sekelompok penari bersama pemimpin syair/zikir dalam suasana kolektif. Tarian ini berkembang di masyarakat Aceh, terutama di Desa Pulo Lueng Teuga, Kabupaten Pidie, sebagai ekspresi budaya lokal yang berakar dalam tradisi sosial dan religius, dan sering ditampilkan pada malam Lebaran Idulfitri maupun acara adat lainnya. Meugrob tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, penguatan identitas budaya, serta media silaturahmi antarwarga.
Rapai Daboh adalah seni pertunjukan tradisional masyarakat Aceh yang memadukan tabuhan alat musik rapai (gendang tradisional) dengan atraksi fisik yang menunjukkan keberanian dan keterampilan. Pertunjukan ini biasanya melibatkan sekelompok pemain rapai dan seorang pemimpin atau “khalifah” yang melakukan gerakan atraktif serta syair-syair religius sambil diiringi ritme rapai. Rapai Daboh berakar dari tradisi Aceh dan sering dipentaskan dalam acara budaya, festival, upacara adat, dan sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya takbenda masyarakat Aceh.
Serune Kale adalah salah satu alat musik tiup tradisional khas Aceh yang populer di berbagai daerah seperti Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Instrumen ini biasanya dimainkan bersama Gendang dan Rapai dalam pertunjukan musik tradisional serta acara hiburan, tarian, dan penyambutan tamu kehormatan. Serune Kale memiliki corong dan lubang nada sehingga dapat menghasilkan suara khas yang mempengaruhi ritme musik dalam budaya Aceh dan menjadi bagian penting dari tradisi musik lokal.
Reubana adalah varian dari rebana — sebuah alat musik pukul tradisional yang telah lama dipakai dalam kebudayaan Aceh sebagai sarana musik ritmis dalam acara keagamaan, perayaan adat, dan pertunjukan musik lokal. Reubana umumnya dimainkan dengan ritme berulang yang mengiringi nyanyian atau syair, dan berperan penting dalam aktivitas budaya masyarakat Aceh sebagai bagian dari ekspresi seni tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.