OPK-Adat Istiadat
- Judul
- OPK-Adat Istiadat
Dublin Core
Collection Items
Peuphon Kitab: Tradisi Permulaan Pembacaan Kitab di Dayah Aceh
Foto ini menampilkan kegiatan Peuphon Kitab, yaitu tradisi permulaan pembacaan kitab di lingkungan dayah (pesantren) Aceh. Dalam tradisi ini, seorang ulama atau guru agama memulai pembacaan dan penjelasan kitab yang akan dipelajari oleh para santri sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu serta permohonan keberkahan dalam proses belajar mengajar.
Khanduri Isra’ Mi’raj
Khanduri Isra’ Mi’raj merupakan tradisi masyarakat Aceh yang dilaksanakan untuk memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam hari setelah salat Isya di meunasah atau masjid, dengan membawa hidangan untuk dimakan bersama serta diisi dengan ceramah agama yang menjelaskan makna dan hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj.
Pemamanen
Pemamanen merupakan tradisi adat masyarakat suku Alas di Kabupaten Aceh Tenggara yang menempatkan paman sebagai tokoh sentral dalam prosesi khitanan keponakannya, dengan pemberian bantuan materi berupa uang, barang, dan jasa dalam resepsi sunatan serta mempererat hubungan persaudaraan dan saling tolong-menolong.
Peusunat
Peusunat adalah upacara khitanan atau Sunat Rasul yang dilakukan di Aceh untuk anak laki-laki dan perempuan. Bagi anak laki-laki pelaksanaannya sering kali diadakan secara khusus dengan mengenakan pakaian adat, prosesi peusijuek (tepung tawar), dan kenduri, serta diakhiri dengan pengajian atau doa bersama. Untuk anak perempuan, pelaksanaannya biasanya tidak berupa acara besar atau dilakukan secara tertutup.
Intat Linto
Intat Linto adalah tradisi budaya Aceh berupa prosesi adat mengantar pengantin pria (linto baro) ke rumah pengantin wanita (dara baro) pada waktu yang telah ditentukan, diiringi sanak keluarga dan tetangga. Prosesi ini mencakup permohonan restu, sambutan dengan shalawat dan seumapa (pantun adat), masuk ke rumah pihak dara baro, serta upacara penyerahan pengantin dan kenduri bersama.
Mangan Mekhadat
Mangan Mekhadat adalah tradisi makan bersama yang berasal dari Kota Subulussalam, Aceh, yang dilakukan secara turun-temurun dalam momen adat seperti pesta perkawinan dan sunat rasul. Dalam tradisi ini, setiap hidangan disajikan dengan penutup talam berwarna-warna yang menunjukkan status sosial peserta makan, seperti kuning untuk pemangku adat, putih untuk ulama, merah untuk panglima, hijau untuk tokoh masyarakat, dan hitam untuk penjaga pintu.
Tendai Manendai
Tendai Manendai adalah prosesi adat dalam pernikahan masyarakat Aceh Selatan, khususnya etnis Aneuk Jamee, yang dilakukan setelah kedua keluarga sepakat untuk menikahkan anak mereka. Prosesi ini merupakan bentuk peminangan di mana pihak laki-laki membawa jinamu (mas kawin), dilaksanakan dengan balas pantun dan dihadiri pimpinan adat serta keluarga dari kedua belah pihak.
Tueng Dara Baro
Tueng Dara Baro adalah prosesi adat pernikahan masyarakat Aceh yang bermakna penjemputan atau penerimaan pengantin perempuan (dara baro) oleh keluarga pengantin laki-laki (linto baro). Prosesi ini biasanya dilakukan pada siang hari, diikuti dengan penyambutan, penaburan beras, penyiraman kaki, serta pengarahan dara baro ke pelaminan dan dilanjutkan dengan berbagai tahapan ritual dan pemberian hadiah oleh keluarga mertua.
Peutron Aneuk
Peutron Aneuk adalah tradisi adat masyarakat Aceh yang dikenal juga sebagai upacara “turun tanah”, yaitu prosesi membawa bayi yang baru lahir keluar rumah atau ke tanah saat usia tertentu — umumnya sekitar 44 hari — untuk diperkenalkan kepada lingkungan masyarakat. Ritual ini dipimpin oleh imum meunasah dan pemangku adat, mencakup peugidong tanoh (menjejakkan kaki bayi ke tanah) dan biasanya diikuti dengan peucicap (mencicipi rasa) serta doa-doa dan selawat sebagai bentuk restu agar bayi tumbuh baik dan selamat.
Toet Apam (Memasak Apam)
Toet Apam adalah tradisi masyarakat Aceh berupa kegiatan memasak kue apam — sejenis penganan mirip serabi — sebagai bagian dari khanduri pada buleun Apam (setara bulan Rajab dalam kalender Hijriah). Tradisi ini biasanya dilakukan oleh kaum ibu di kampung secara sendiri atau berkelompok, mengolah beras menjadi adonan apam yang kemudian dimasak di atas pinggan tanah.
Collection Tree
- OPK-Adat Istiadat










